My First Hanami Experience

DSCF5148_12Salah satu highlight dari Japan Trip saya April lalu adalah melihat bunga sakura! Nggak afdhol hukumnya kalo ke Jepang saat musim semi tapi nggak lihat sakura, ya nggak? Sayangnya, rata-rata bunga sakura hanya bertahan 1-2 minggu sebelum akhirnya menggugurkan diri. Karena saya pergi ke tokyo pertengahan April, sebenarnya saya udah nggak terlalu berharap bisa lihat full bloom. Full Bloom sakura di Tokyo berlangsung sekitar akhir maret sampai awal April.

Read More

Jago Naik Kereta di Tokyo

DSCF5287(1)_57.jpg

Sejak rencana Japan Trip 2016 dicetuskan, hal yang paling saya khawatirkan adalah: nyasar. Apalagi kalo baca blog-blog orang yang sering menyebutkan betapa ribetnya sistem kereta api di Jepang, rumitnya nyari exit dari stasiun, dan peta jalur perkereta-apian yang saling silang dan butuh pemahaman maksimal. Read More

Sensasi Menginap di Area Red Light District, Tokyo

4720998646_6897a56a49_61

4 Bulan sebelum saya dan adik saya (Lulu) berangkat ke Tokyo, saya mulai memilah-milah hostel atau hotel mana yang akan kami tempati nanti. Saat itu (Januari), masih banyak hotel bagus dan murah dengan akses ke stasiun JR mudah. Oiya, saya cari referensi hotel dari Booking.com, jadi nggak perlu bayar dp dulu, bayar ketika dateng ke hotelnya pas hari H aja.

Pada awalnya saya berencana menginap di daerah Asakusa, karena kebetulan itinerary saya (khusus itinerary akan saya post di lain waktu) banyak di daerah Asakusa dan Ueno juga yang lumayan berdekatan (kalo bingung itu letaknya dimana, buka google maps😉 ). Tapi saat itu saya belum bisa booking, karena masih terhambat tiket dari mas-mas jasa tiket wisata gitu😦 Lamaaa sekali tiket ga segera di-issued. Khawatir tiket nggak keluar, akhirnya saya sambil lanjut ngerjain skripsi lagi.

Read More

Japan Trip: Living Out The Dream

Suatu hari, satu tahun yang lalu, saya iseng nanya ke adek yang saat itu duduk di kelas 12 SMA (Lulu namanya),
“Lu, ke korea yuk”
“Yah jangan korea mba putri, Jepang aja banyak yang bisa dilihat”
Untuk seseorang yang saat itu hanya tau korea dari berbagai macam reality show sejenis Runningman dan 2 days 1 night, saya bingung, apa bagusnya sih Jepang?
tapi demi bisa jalan-jalan dan ada temennya, saya rela mulai ‘belajar’ dan cari-cari tempat menarik di Jepang. Read More

Hedon di Kupang

Waktu lebaran di Kolbano kemarin, temen gue, Yolanda, didatangi keluarganya. Asik ya? Mama papa dan adik-adiknya ikut ke Kolbano. Tapi papanya harus balik lebih awal ke Jakarta. Sehingga Yolanda harus nganter ke Kota Kupang yang jaraknya 180km atau ditempuh 3 jam perjalanan naik mobil. Mama dan adik Yolanda nggak ikut, mereka memilih stay di penginapan KKN untuk “mengurus” anak-anak KKN kami. Akhirnya gue, Ulin, dan Nanda ikut Yolanda mengantar ke Kupang bersama mas Mikha pendamping kelompok kami. Tujuan kami adalah : melihat peradaban.
Ditengah perjalanan kami berhenti di sebuah rumah makan. Akhirnya makan enak! Dan makan enak yang kami maksud adalah ayam goreng, soto, dan nasi campur. Maklum, di penginapan KKN kalo makan harus susah-susah masak rempong dulu, belum lagi kalo sedang ga ada lauk untuk dimasak. Sarden atau mie instan pun jadi. Maka, hanya dengan makan di restoran sederhana ini saja udah bikin kita hepi.
Akhirnya sampai di tengah kota Kupang. Setelah mengantar papa Yolanda ke Hotel, kami bergegas belanja ke Hypermart Kupang. Kami tidak sempat ke Mall, padahal pingin banget. Tapi mayan lah at least belanja kebutuhan sehari-hari.
Masuk ke Hypermart, kami udah kayak orang kampung belum makan sebulan. Rasanya semua mau dibeli. Karena saat itu gue nggak menyiapkan daftar belanjaan, akhirnya gue menyusuri rak belanja satu persatu. Dari mulai BAJU TIDUR (lumayan nambah-nambah baju dan celana tidur), susu, PEMBALUT (padahal udah bawa 2 kotak gede di Kolbano), sabun shampoo sunblock handbody lotion, LIPSTIK (gatau kenapa gue beli. Namanya juga cewek), jepitan rambut, snack, dll. Seolah-olah nggak ada hari esok untuk kita balik ke peradaban Kupang.
Sejak sampai di Kupang aja gue udah hepi, kenapa? bahkan Path yang location nya susah dijangkau pake internet yang cepet, bisa nge-detect Kupang. “from Kupang” udah bikin gue super bahagia🙂

Balik ke Kolbano, rasanya gue nyesel ga belanja lebih banyak di Kupang, toh di Kolbano uang gue nggak habis-habis karena gaada yang bisa dibeli :’). Dan gue nggak tau lagi kapan ada kesempatan ke Kupang lagi. huft. yaudah bye, semoga bisa kembali melihat peradaban Kupang :””’)

Homesick di Hari Ke-15

Dulu waktu awal masuk kuliah, kehidupan gue berubah semenjak jadi anak kost. Makan sendiri, laundry sendiri, belajar sendiri, space lo ya cuma di kamar lo. Hiburan ya cuma nonton atau pergi bareng temen. Se-deket apapun temen lo pasti ada saat dimana lo ngerasa sendiri. Saat itu gue jadi ngerti arti keluarga, pertamakalinya gue kangen sama keluarga gue di Jakarta so badly.

Lebaran di Kolbano, NTT

Selamat hari raya Idul Fitri 1436 H! Lebaran tahun ini pertamakalinya gue nggak di rumah. Bukan di Kota Solo, bahkan lebih jauh lagi. Kolbano, Nusa Tenggara Timur. Disinilah tempat gue tinggal untuk 1,5 bulan. Bermula dari Juli hingga pertengahan Agustus.
Gue sadar, waktu pertamakali memilih Kolbano sebagai lokasi KKN, Gue nggak akan bisa lebaran di Jakarta. Sebenernya mungkin bisa, tapi tiket PP Jakarta-Kupang mahal banget ya sist. Dulu pun sudah izin ke orangtua tentang hal ini, dan mereka udah rela, ikhlas gue ga ikut lebaran dan pulang kampung ke Kediri tahun ini.

Duka Di Kecamatan Kolbano

Malam itu, Jumat 10 Juli 2015 kami mendapat kabar bahwa ada salah satu tetangga kami, warga Kolbano, meninggal dunia. Segera kami satu tim berangkat untuk melayat. Ketika hanya berjarak 10 m, sayup-sayup saya dengar tangisan sanak keluarga yang amat pilu. Gue sejujurnya terkejut. Mungkin karena kultur syok, gue tidak terbiasa mendengar tangisan keluarga yang sedang berduka sampai meraung-raung seperti itu.

Tapi tidak masalah, perbedaan kultur memang justru indah untuk diketahui bukan? Kami membentuk barisan menyalami satu-satu keluarga dekat yang sedang berduka.

Read More